oleh

Labu Siam dan Robeknya Jantung Kemanusiaan

-Artikel-23 views
banner 728x90

Oleh: Suriadi
(Mahasiswa Doktoral Universitas KH Abdul Chalim)

​Hari ini, jumat. Saya membaca berita yang menyayat. Menampar kediaman iman yang kaku. Kompas merilis berita (Kamis, 5 Maret 2026), tentang seorang lansia yang tewas dianiaya karena mengambil dua labu siam dari kebun seseorang. Labu siam yang diniatkan untuk ibu nya sebagai menu berbuka puasa.

banner 728x90

Mungkin ia salah karena mencuri. Tapi barangkali, lebih salah lagi, kita, yang sibuk berpesta dengan menutup mata iman.

Kejadian ini potret, betapa dunia kita hari ini seringkali terjebak dalam “kesalehan prosedural” yang kering. Kita begitu gigih menjaga batas-batas kepemilikan, namun abai pada batas-batas kemanusiaan. Tragedi meninggalnya seorang lansia itu, seharusnya pukulan keras bagi nurani kita yang tidur.

Pun peristiwa ini, mestinya tidak direkam sebagai berita kriminal di kolom koran. Melainkan, menjadi upaya mengenal, mendiagnosa secara klinis, apakah jiwa komunal kita sedang sakit.

Dalam perspektif psikologi Islam, terdapat konsep luhur mengenai sabar dalam menunda kebaikan. Sabar di sini bukan diam dalam penderitaan, melainkan kontrol diri (self-regulation) yang sangat tinggi untuk memprioritaskan kebaikan yang lebih besar (maqasid) di atas kebaikan yang bersifat personal atau legalistik.

Secara hukum, pemilik kebun memiliki “hak” untuk melindungi propertinya. Menjaga harta adalah sebuah kebaikan dalam syariat. Namun, dalam psikologi Islam yang mendalam, ada tingkatan di mana seorang mukmin diminta untuk “menunda” atau bahkan “mengorbankan” hak pribadinya demi kebaikan yang lebih mendesak: keselamatan nyawa dan kasih sayang.

Kita kerap diingatkan pada teladan besar dalam sejarah Islam, di mana para ulama dan kaum salih seringkali menunda haji (sebuah ibadah puncak) hanya karena di perjalanan mereka menemukan tetangga maupun orang yang kelaparan.

Mereka paham bahwa menyentuh Ka’bah adalah kebaikan, namun menyelamatkan nyawa manusia adalah “Ka’bah yang sesungguhnya” di mata Allah.

Begitu pula narasi tentang menunda pembangunan masjid yang megah demi memberi makan fakir miskin di sekitarnya. Logikanya sederhana: Allah tidak bersemayam di bangunan semen dan batu, tapi Ia hadir di hati mereka yang hancur dan kelaparan.

Sebagaimana Musa sewaktu mencari Allah, maka Allah katakan: carilah Aku pada mereka yang sedang hancur, luka, dan nestapa hatinya (al-munkasirah qulubuhum).

​Dalam kasus lansia ini, sang pelaku gagal melakukan sabar dalam konteks menunda “kebaikan” versinya sendiri. Yaitu menegakkan keadilan atau memberi pelajaran pada pencuri.

Jika saja ada sedikit ruang dalam jiwanya untuk melakukan ta’akhur al-khair (menunda satu kebaikan demi kebaikan lain), ia akan melihat bahwa memaafkan lansia tersebut dan memberinya makanan jauh lebih “islami” daripada mempertahankan dua buah labu siam tersebut.

Karena faktanya, lansia tersebut mencuri bukanlah untuk memperkaya diri, melainkan sebuah bakti untuk memberi makan ibunya.

Nampaknya, kita memiliki masyarakat yang mungkin saja rajin berpuasa, akan tetapi gagal menangkap esensi puasa sebagai latihan empati. Terbukti, semakin ke sini, kita melihat hilangnya kemampuan untuk melihat wajah di balik kesalahan.

Mengapa masyarakat ini kian menjadi begitu reaktif dan keras. Dan mengapa pula kemarahan lebih cepat meledak daripada belas kasih?. Seumbut pertanyaan yang saya renungi dalam-dalam.

Karena manusia yang jiwanya tenang tidak akan membunuh hanya karena dua buah labu siam. Ia pasti mampu berpikir “Kebaikan apa yang lebih besar saat ini? Menghukumnya, atau merangkulnya?”

Sekali lagi, tragedi ini alarm keras bagi kita semua. Kebaikan tidak selalu berarti melakukan hal yang tampak religius secara formal. Terkadang, kebaikan tertinggi adalah menunda ego kita, menunda hak kita, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk bertahan hidup.

Dua buah labu siam itu kini telah menjadi saksi di hadapan Tuhan, tentang sebuah bangsa yang mungkin fasih berdoa, namun gagap dalam mencinta. Turut pula menampakkan, betapa ayat Allah yang bagai embun itu, kerap menetes di tanah hati manusia yang kian hari kian gersang. Tidak siap ditumbuhi iman.

banner 728x90