Oleh: Dr. Ardiyansyah, M.Pd
Setiap pergantian tahun selalu datang dengan wajah yang sama, sorak-sorai, hitung mundur, kembang api yang membelah langit malam, serta berbagai resolusi yang diucapkan dengan penuh harap. Tahun baru seakan menjadi ruang simbolik tempat manusia menggantungkan optimisme, sekaligus melupakan sejenak beban masa lalu. Namun di balik euforia itu, kegelisahan saya justru muncul. Apakah kita sungguh sedang menyambut momentum perubahan, atau sekadar merayakan kesenangan yang cepat menguap begitu hari berganti?
Dalam perspektif Islam, waktu bukan sekadar urutan angka dalam kalender. Ia adalah amanah, saksi, sekaligus pengingat akan keterbatasan manusia. Al-Qur’an bahkan mengabadikan waktu sebagai objek sumpah Ilahi: wal-‘ashr. Isyarat ini menegaskan bahwa waktu memiliki nilai spiritual yang tinggi, dan setiap detik yang berlalu adalah bagian dari perjalanan manusia menuju pertanggungjawaban akhir. Maka, menyambut tahun baru sejatinya bukan soal pesta atau kemeriahan, melainkan momen muhasabah yang serius dan jujur.
Antara Euforia dan Kelalaian Spiritual
Tidak dapat dipungkiri, perayaan tahun baru kerap terjebak pada pola hedonistik. Kesenangan menjadi tujuan, bukan sarana. Banyak orang merayakan pergantian tahun dengan cara-cara yang justru menjauhkan diri dari kesadaran spiritual, berlebih-lebihan, larut dalam hiburan, bahkan tak jarang melampaui batas etika dan moral. Di titik ini, euforia berubah menjadi kelalaian. Padahal, Islam sejak awal mengajarkan keseimbangan antara kegembiraan dan kesadaran diri.
Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan umatnya untuk memusuhi kebahagiaan. Islam bukan agama yang mematikan rasa senang. Namun kebahagiaan dalam Islam selalu ditempatkan dalam kerangka makna dan tanggung jawab. Kesenangan yang tidak menumbuhkan kesadaran justru berpotensi melalaikan, sementara kegembiraan yang disertai refleksi dapat menjadi pintu perubahan.
Tahun Baru sebagai Ruang Muhasabah
Pergantian tahun semestinya menjadi jeda eksistensial. Sebuah ruang hening di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Islam mengenal konsep muhasabah, evaluasi diri yang mendalam atas apa yang telah dilakukan dan ke mana arah hidup akan dituju. Tahun baru adalah momentum alami untuk itu. Bukan sekadar bertanya “apa yang ingin saya capai?”, tetapi lebih dalam lagi “menjadi manusia seperti apa saya ke depan?”
Transformasi diri dalam Islam tidak dimulai dari resolusi yang bombastis, melainkan dari kesadaran akan kelemahan diri dan niat tulus untuk memperbaiki. Hijrah Nabi Muhammad SAW bukan hanya perpindahan geografis, tetapi perubahan orientasi hidup. Dari penindasan menuju pembebasan, dari keterikatan dunia menuju keteguhan nilai. Semangat hijrah inilah yang semestinya kita hidupkan setiap kali waktu berganti.
Transformasi Diri: Dari Ritual ke Substansi
Sering kali resolusi tahun baru berhenti pada daftar target yang bersifat teknis dan material: karier, finansial, pencapaian pribadi. Semua itu sah dan penting. Namun tanpa fondasi nilai, target-target tersebut mudah kehilangan arah. Islam mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam diri “Inna Allaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”. Ayat ini menegaskan bahwa transformasi sosial dan personal mensyaratkan perubahan batin.
Tahun baru semestinya mendorong kita untuk memperbaiki kualitas iman, kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial. Menjadi pribadi yang lebih baik bukan berarti menjadi lebih sibuk, tetapi menjadi lebih sadar. Lebih peka terhadap sesama, lebih bertanggung jawab dalam peran, dan lebih jujur pada diri sendiri.
Menata Harapan dengan Kesadaran Ilahiah
Harapan adalah fitrah manusia. Namun Islam mengajarkan agar harapan selalu disandarkan pada usaha dan tawakal, bukan sekadar optimisme kosong. Menyambut tahun baru dengan doa, refleksi, dan niat perbaikan adalah bentuk pengakuan bahwa hidup ini berada dalam genggaman Tuhan. Di sinilah letak perbedaan antara euforia duniawi dan semangat spiritual. Yang satu cepat padam, yang lain memberi arah dan ketenangan.
Dalam konteks masyarakat modern yang serba cepat dan kompetitif, refleksi semacam ini menjadi semakin penting. Tanpa jeda spiritual, manusia mudah terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Tahun baru seharusnya menjadi pengingat bahwa hidup bukan sekadar bergerak maju, tetapi juga bertumbuh secara etis dan ruhani.
Menutup Tahun, Membuka Kesadaran
Pada akhirnya, menyambut tahun baru adalah soal pilihan sikap. Kita bisa memilih larut dalam euforia sesaat, atau menjadikannya titik tolak transformasi diri. Islam tidak melarang kegembiraan, tetapi mengajarkan agar kegembiraan selalu bermuara pada kesadaran dan kebaikan. Tahun boleh berganti, tetapi yang jauh lebih penting adalah apakah kita ikut berubah ke arah yang lebih baik.
Saya meyakini, bila momentum tahun baru kita isi dengan muhasabah yang jujur, niat yang lurus, dan komitmen perbaikan yang konsisten, maka pergantian waktu tidak lagi hampa makna. Ia menjadi saksi ikhtiar kita untuk tumbuh sebagai manusia yang lebih beriman, lebih beradab, dan lebih bermanfaat. Dan bukankah itu hakikat hidup yang diajarkan Islam yakni menjadi pribadi yang terus bergerak menuju kebaikan.










