oleh

Hadis, Jalan, dan Lompatan Pikiran

-Artikel-65 views
banner 728x90

Oleh: Suriadi
(Mahasiswa Doktoral Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto)

Dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang sangat akrab dengan keseharian kita. Hadis yang cukup sering kita dengar. Nabi Muhammad SAW bersabda: bahwa iman memiliki lebih dari enam puluh, atau tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah pengakuan lā ilāha illallāh, sementara yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan (HR. Abu Hurairah). Hadis yang lalu kerap dikutip sebagai contoh, bagaimana semestinya iman diwujudkan dalam tindakan yang konkret.

banner 728x90

Ketika menjelaskan hadis tentang imāṭat al-adzā ‘an al-ṭarīq, menyingkirkan gangguan dari jalan – dalam Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi bahkan menyebutkan contoh yang sangat sehari-hari: batu, duri, dan kayu. Benda-benda yang tampak sederhana, dan mungkin tidak pernah kita anggap penting, akan tetapi bisa saja menimbulkan bahaya bagi orang lain jika dibiarkan tergeletak di sembarang tempat.

Dalam riwayat lain, Nabi juga menyebutkan adanya pahala bagi orang yang menyingkirkan ranting atau benda berbahaya dari jalan. Kadang disebut beling, kadang kayu, kadang sesuatu yang bisa melukai orang yang lewat. Pesan yang kelihatannya sederhana, bahkan nyaris sepele. Namun justru di situlah duduk persoalannya.

Mungkin karena kesederhanaan pesan ini. Kita pun terbiasa seringkali berhenti pada lapis paling luar dari hadis tersebut. Tak jarang, perhatian kita hanya spontan tertuju pada pahala, pada tindakan sesaat sewaktu benda itu disingkirkan.

Kita seolah menganggap, adalah nilai utama dari pesan Nabi terletak pada keberadaan ranting atau beling itu sendiri, bukan pada kondisi, sebab, atau hal lain yang membuat benda-benda itu jadi masalah. Dari kacamata inilah, berkembang apa yang di sebut sebagai logika menunggu: menunggu ada gangguan di jalan, lalu menyingkirkannya demi pahala.

Kita akhirnya semacam tersandera pada tafsir yang demikian. Berputar-putar, dan akan kembali lagi di garis awal – ada ranting pindahkan. Padahal, jika hadis ini kita baca dengan sedikit keberanian berpikir, maknanya bisa dilompatkan lebih jauh. Misal, mengapa harus menunggu ranting jatuh ke jalan? Mengapa beling harus lebih dulu melukai atau mengganggu orang lain sebelum kita bertindak? Mengapa orientasi kita musti berhenti pada reaksi, bukan pencegahan?

Padahal, jika kita berangkat dari pikiran semacam itu, maka dimungkinkan terbukalah makna lain dari hadis ini. Ia tidak lagi dipandang sebagai nasehat yang berbicara mengenai tindakan sesaat, melainkan tentang cara berpikir. Tentang orientasi moral, dan tanggung jawab yang lebih struktural.

Lompatan logika ini, sebetulnya sedang ada dalam posisi berupaya menggeser fokus dari merespons masalah, menuju upaya mencegah masalah sejak awal. Dan biasanya, pendekatan semacam ini akan menuntut kerja yang lebih payah, lebih panjang, lebih melelahkan. Meskipun sering kali tidak langsung terlihat hasilnya, akan tetapi, diyakini hasilnya nanti akan berdampak lebih lama. Masalahnya adalah, cara ini pula yang amat jarang ditempuh.

Kita membayangkan, jika logika ini diterapkan, cakrawala amal mungkin menjadi jauh lebih luas. Kita tidak lagi sibuk menyingkirkan ranting, tetapi mulai memikirkan bagaimana pohon-pohon di tepi jalan dirawat dan ditata. Kita tidak hanya fokus membersihkan sampah yang berserakan, tetapi memikirkan sistem pengelolaan sampah yang adil dan berkelanjutan. Dalam tafsir ini, ibadah tidak lagi bersifat insidental (waktu tertentu), melainkan melekat dalam cara kita mengelola kehidupan sehari-hari, dalam relasi kita dengan ruang publik, lingkungan, dan sesama manusia.

Meminjam pokok pikiran Mahatma Gandhi dalam berbagai tulisannya yang terhimpun dalam Collected Works of Mahatma Gandhi, ia menegaskan “Satisfaction lies in the effort, not in the attainment. Full effort is full victory”; Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Upaya yang sungguh-sungguh adalah kemenangan itu sendiri.

Gagasan Mahatma Gandhi tentang kepuasan yang terletak pada usaha, bukan pada hasil, mencerminkan etos moral yang melampaui logika menunggu. Bukan memindahkan beling, sampah atau ranting. Namun melakukan sesuatu agar ranting, sampah dan beling itu tidak ada. Artinya, kalau kita bisa tidak memindahkan apa-apa dari jalan, kenapa harus menunggu sesuatu ada untuk dipindahkan.

Gandhi berulang kali menegaskan bahwa nilai suatu tindakan tidak ditentukan oleh cepat atau lambatnya keberhasilan, melainkan oleh kesungguhan dalam menjalani proses yang benar. Bagi Gandhi, ada jenis kerja yang tidak memberi kepuasan instan. Kerja yang sunyi, berulang, dan sering kali luput dari sorotan. Namun, justru kerja semacam itulah yang memiliki nilai moral paling dalam. Mengurus sebab-sebab masalah, memastikan gangguan tidak muncul sejak awal, adalah bagian dari kerja jangka panjang yang menuntut kesetiaan, bukan hanya semangat sesaat.

Maka, hadis tentang ranting di jalan barangkali bukan hanya cerita tentang pahala kecil. Hadis ini bisa jadi adalah undangan kepada kita untuk berpikir lebih dalam, melampaui teks, dan berani mengambil lompatan logika. Dari membersihkan akibat, menuju mengurus sebab. Dari tindakan reaktif, menuju tanggung jawab yang berkelanjutan.

Dalam banyak ruang persoalan umat hari ini, Islam yang bekerja dengan cara seperti ini dimungkinkan mampu menjawab duduk persoalan. Tidak mudah bangga dengan pekerjaan sesaat, tidak bekerja pada kedangkalan, melainkan ke pokok sebab – kenapa masalah itu timbul ke permukaan.

Barangkali, jika Islam berani kita bawa ke level ini, bekerja di wilayah praksis dan pokok persoalan – sebagai penganutnya (muslim), amanah kita sebagai Khalīfah fī al-arḍ, akan mampu berdampak lebih luas, dalam arti menyelesaikan hulu masalah.

Dan cara ini sebenarnya bisa dikutip oleh siapa saja. Karena keteladanan Nabi juga, seringkali tidak melulu berada pada hal-hal yang spektakuler. Ia juga hadir dalam peran-peran manusiawi: sebagai pedagang yang jujur untuk mencegah kecurangan, sebagai pemimpin yang adil untuk mencegah ketimpangan, sebagai ayah dan orang tua yang bertanggung jawab agar mencegah luka mendalam pada anak. Semua itu adalah sunnah dalam arti yang paling nyata, mencegah daripada mengobati.

Maka, meneladani Nabi tidak selalu berarti menunggu kesempatan untuk berbuat baik secara kasuistik. Ia bisa kita mulai dari keberanian berpikir lebih jauh, dari kesediaan diri untuk melompat keluar dari logika pahala semata. Dari kesadaran bahwa kebaikan sejati bukan hanya soal merespons masalah, tetapi tentang menciptakan dunia yang tidak memproduksi masalah itu sejak awal. Wallahu a’lam.

banner 728x90