oleh

Homo Festivus – Manusia Berpesta

-Artikel-67 views
banner 728x90

Oleh: Suriadi

(Sekretaris GP. Ansor Nunukan/Mahasiswa Doktoral Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto)

banner 728x90

“Dan kehidupan dunia tak lain hanyalah permainan dan senda gurau”. (QS. Al-An‘ām: 32)

Sebuah pesan retoris dari Tuhan, yang kerap kita eja sebagai kritik teologis atas keterlekatan manusia pada dunia. Menjadi alarm bagi kita – dunia diperingatkan agar tidak diseriusi berlebihan. Makanya, dikabarkanlah dunia itu fana, rapuh dan menipu.
Namun, dalam konteks hari ini, ayat ini dibajak pergi pada persoalan yang justru terbalik: bukan lagi manusia yang terlalu serius pada dunia, melainkan dunia yang dijalani tanpa kesadaran moral.

Meninjau pikiran sahabat jauh, Khalil Gibran, maestro filsafat cinta, sepertinya relevan: “semakin tua dunia, pertanda, semakin tinggi jua peradaban manusia. Semakin maju peradabannya, semakin canggih pula teknologinya. Pertanyaannya, apakah semua itu telah berhasil membuat kita semakin arif dalam bersikap atau semakin bijak dalam bertindak?”

Justru, terlihat kita yang sekarang, segala hal diperlakukan sebagai permainan, pesta, dan hura-hura – bahkan ketika yang dipertaruhkan adalah akal sehat, etika, dan luka kemanusiaan.
Jauh sebelum sekarang, filsuf dan sejarawan Belanda, Johan Huizinga menyebut manusia sebagai homo ludens, manusia bermain. Tapi tampaknya, telah terjadi lompatan besar, manusia modern berevolusi dengan cepat dari homo ludens menjadi homo festivus: makhluk yang hidup untuk berpesta.

Terekam, tabiat kita saat ini tidak hanya suka bemain, tapi juga suka berpesta. Sehingga, apa pun peristiwanya, selalu ada cara kita untuk menjadikannya hiburan. Tabrakan dijadikan tontonan. Bencana dijadikan konten. Tragedi dikemas sebagai lelucon. Untuk pesta, kita sepertinya tidak lagi menunggu kegembiraan. Bahkan, kadang ia bisa kita hadirkan meskipun di atas penderitaan. Dalam situasi seperti inilah, cara kita bercanda mulai kehilangan orientasinya. Yang bercanda ditanggapi serius, yang serius justru ditertawakan.

Fenomena viral Mens Rea Panji Pragiwaksono, menjadi contoh telanjang dari paradoks ini. Pertunjukan komedi yang secara konvensi merupakan ruang bercanda, satire dan kritik – ditarik ke ruang pengadilan moral, bahkan hukum. Sementara, pada waktu yang sama, banyak persoalan serius negara: ketidakadilan kebijakan, kerusakan ekologis, dan penderitaan rakyat, malah semakin lesuh. Disikapi santai, permisif, dan penuh pembenaran. Redup, dan tak kunjung klimaks dalam penyelesaian.

Alih-alih kritis, saban hari, mata kita juga hanya tertumbuk pada respon hitam putih atas komedi Panji. Kita pun lalu ikut-ikutan menjadi publik yang terbagi. Sebagian merespon sepakat, separuh lagi merespon tuntutan dan kecaman.

Berlepas dari pihak yang sepakat dan tidak. Perlu diakui, bahwa benar, fisik seseorang tidak boleh dijadikan bahan lelucon. Tapi, hal itu jangan juga mengaburkan nafas stand-up comedy panji adalah bermain di wilayah kritik sosial. Jadi, sangat heran, kalau justru hal itu diperlakukan seolah-olah merupakan pernyataan resmi yang layak diadili. Kalimat komedi ditimbang dengan pasal. Niat satir dibaca sebagai niat jahat. Hal ini tidak mungkin terjadi. Tapi, bisa pula terjadi kalau pemerintah memperlihatkan wajah anti kritiknya. Dan, itupun sebetulnya melanggar prinsip demokrasi yang konon ada di negara ini.

Masyarakat yang juga sudah ikut-ikutan mengadilinya begitu cepat, juga menampakkan kegagalan membaca mens rea para pemegang kekuasaan itu. Akibatnya, kalau nanti terjadi lagi situasi tunggang langgang akibat kebijakan tanpa keberpihakan pada rakyat, eksploitasi alam atas nama pembangunan, dan penderitaan dijustifikasi dengan data dan prosedur – kita akan semakin jarang membobot pertanyaan: niat apa yang bekerja di balik semua itu?

Tergelincirnya nalar ini, mungkin adalah akibat dari yang satu diawasi tutur katanya, sementara yang lain dibebaskan tindakannya. Alhasil, dalam alur logika inilah, komedi menjadi lebih berbahaya daripada kekuasaan, dan satire dianggap lebih subversif daripada ketidakadilan struktural.

Kasus Mens Rea Panji, sekurang-kurangnya memperlihatkan ada upaya-upaya cipta kondisi yang lebih dalam: mempersoleknya di pipi kanan, agar publik kabur membedakan ruang bercanda dan ruang berkuasa yang terletak di pipi kiri. Dengan cara seperti ini, komedi yang sejatinya adalah alat kritik akan dianggap ancaman. Sementara kekuasaan yang seharusnya diawasi akan diterima sebagai keniscayaan. Maka, ini bukan saja perihal soal setuju atau tidak setujunya dengan materi Panji, melainkan soal disorientasi nalar publik.

Saya juga tidak sedang ingin membela atau mencoba mengadili Panji. Melainkan, hanya mencoba menggunakan kejadian ini sebagai cermin zaman. Bahwa hari ini, komedi bisa dianggap lebih berbahaya daripada ketidakadilan. Bahwa niat bercanda bisa dipidanakan, namun niat menindas sering dimaafkan. Dan bertolak dari hal itu, kita juga mungkin sedang mengalami yang namanya krisis mendasar: krisis membaca niat (mens rea)

Yah, niat. Begitulah maksud mens rea yang dalam ilmu hukum akrab diartikan sebagai niat atau motif di balik sebuah tindakan.
Kalau saat ini, kita masih sibuk mempertanyakan, mendebatkan, mens rea panji yang bercanda itu. Sama, kita juga musti mempertanyakan mens rea pemerintah, yang konon katanya “sangat serius” mengurusi segala hal ihwal masyarakatnya.

Kalaulah sebuah kritik yang dibungkus komedi ditanggapi seolah-olah ia adalah pernyataan serius yang layak diadili, sementara di seberangnya banyak tindakan serius yang berdampak luas pada rakyat justru lewat tanpa pertanyaan tentang niat di baliknya. Pikiran publik sebetulnya sedang ditata ulang – bercanda didudukkan seperti kejahatan, dan kejahatan dinormalisasi sebagai kebiasaan.

Tapi, yah, begitulah. Karena mungkin kita adalah homo festivus, suka bercanda dan berpesta. Saat pemerintahnya; bencana dibuat hura-hura. Korupsi untuk hura-hura. Hukum untuk hura-hura. Politik untuk hura-hura. Rakyat dan kerakyatan dibuat hura-hura. Pun yang harusnya dikerja serius dibuat hura-hura. Berbanggalah, karena kita memiliki kesamaan dengan mereka. Pertama, komedi yang ditanggapi serius. Kedua, urusan yang serius dikomedikan.

Sebagaimana, status sahabat facebook saya: “stand up comedy yang bercanda itu ditanggapi serius, tapi banyak keadaan yang serius ditanggapi bercanda”. Dan barangkali benar, itulah kondisi kita.

banner 728x90