Oleh: Suriadi
(Mahasiswa Program Doktor Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto)
Coba perhatikan orang-orang di kafe atau di dalam gerbong kereta. Pun yang ada di dalam Masjid. Semuanya terlihat dengan pose yang hampir sama. Semua menunduk, asyik dengan kotak bercahaya di tangan mereka.
Melihatnya, kita sering merasa sedang berada di puncak peradaban. Merasa jauh lebih maju. Merasa telah melampaui nenek moyang kita yang masih berburu rusa dengan tombak dan kayu. Walau boleh jadi, sebetulnya hanya teknologi saja yang melesat ke bulan, tapi jiwa kita masih tertinggal di gua-gua purba dengan segudang perilaku primitif.
Ada anggapan yang percaya bahwa kemajuan gawai otomatis berarti kemajuan martabat. Anggapan yang kelihatannya seperti kenaifan kolektif. Apa benar, algoritma yang canggih punya kuasa mengutak-atik “setelan pabrik” manusia.
Ambil contoh keserakahan. Dulu, orang serakah mungkin cuma bisa menimbun harta atau menguasai satu petak tanah tetangga. Sekarang, keserakahan itu nampaknya pindah ke angka-angka digital, ke spekulasi saham, atau ke penguasaan data jutaan orang. Alatnya ganti, dari cangkul jadi koding. Tapi rasa lapar yang tak pernah puas di ulu hati itu tetap sama. Lebih jauh, ia menginfeksi negara. Letuslah perang yang merenggut jutaan kehidupan.
Lalu ada soal kejumawaan. Mahsyur sekali kisah orang-orang sebelum kita. Mereka memperlihatkan kesombongan dengan cara berteriak di pasar atau membangun monumen batu agar dilihat layaknya raja-raja. Lalu apa bedanya sekarang, panggung kita malah tidak punya batas. Di media sosial, berhamburan sifat ingin dipuji, ingin merasa paling benar, dan kebutuhan untuk merendahkan orang lain agar diri sendiri merasa tinggi.
Apa jangan-jangan teknologi bukan diciptakan untuk memajukan manusia, melainkan untuk menelanjangi siapa kita sebenarnya.
Lihat bagaimana kejahilan atau kebebalan bekerja saat ini. Dengan bantuan revolusi teknologi, orang yang paling tidak berilmu pun bisa punya pengikut jutaan dan merasa dirinya nabi baru. Teknologi memberi panggung bagi siapa saja, termasuk mereka yang paling berisik namun kosong isinya. Hal itu juga yang sedang menunjukkan bahwa teknologi tidak membuat kita lebih pintar.
Cak Nur suatu ketika melontarkan pendapatnya, adalah modern tidak serta merta ditandai dengan “meletusnya” pengguna teknologi. Apa mungkin dikatakan modern, jika dengan mobil terbang kita masih memakan yang lain. Apa mungkin dikatakan modern jika di tengah limpahan alat bantu kekinian, sifat buruk masih dipelihara tanpa sesal.
Kita ini spesies yang aneh. Mampu menciptakan kecerdasan buatan (AI) yang bisa menjawab segala hal, tapi kita tetap tidak bisa menjawab kenapa kita masih saja iri hati saat melihat keberhasilan teman di layar ponsel. Kita bisa mendaratkan robot di Mars, tapi masih saja gagal mengendalikan amarah saat ada orang yang berbeda pendapat di kolom komentar. Lebih jauh, negara makin maju, kemanusiaan makin rapuh.
Nampaknya, revolusi teknologi tak ubahnya hanyalah sebuah percepatan, bukan perubahan arah. Layaknya pedal gas yang ditekan dalam-dalam. Kalau pengemudinya memang sudah dasarnya rakus dan jahat, kendaraan itu akan meluncur lebih cepat menuju kehancuran. Begitu juga sebaliknya.
Nanti, seribu tahun lagi, mungkin tubuh kita sudah menyatu dengan mesin atau kita sudah hidup dalam simulasi. Tapi saya yakin, di sana tetap akan ada pengkhianatan, tetap akan ada perebutan kekuasaan, dan tetap akan ada orang-orang yang merasa lebih suci dari yang lain. Karena secanggih apa pun alat yang kita pegang, kita tetaplah primata yang sama, makhluk penuh drama yang hanya kebetulan sedang memegang gawai.
Kita enggan menyampingkan diri sejenak dari kemajuan. Mengambil ruang jeda. Merenungi teknologi maha canggih bernama manusia (diri sendiri). Kenapa bisa, semakin ke sini, ia makin kotor laku nya.
Sehingga boleh jadi, sampai hari ini pula, kita hanya sedang memproduksi lelah. Ditabung sedemikian rupa menjadi dosa. Berbangga-berbangga dengan kemajuan yang tidak diiringi iman.










