oleh

Politik Tak Pernah Puasa

-Artikel-65 views
banner 728x90

Oleh: Suriadi
(Mahasiswa Program Doktor Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto)

Ada anggapan yang mungkin saja keliru. Anggapan yang sering kita dengar di ruang-ruang diskusi, bahwa rakyat kita itu buta politik, atau setidaknya tidak cukup pintar untuk memahami cara negara ini bekerja. Padahal, andaikan kita mau turun ke warung kopi atau pangkalan ojek, kenyataannya berat. Mereka bukannya tidak tahu. Mereka hanya sedang bosan.

banner 728x90

​Sebut saja kebosanan kronis, lahir karena politik dari waktu ke waktu rasanya tak pernah benar-benar mampu “membaca” hidup mereka dengan jujur. Politik kita lebih asyik dengan dirinya sendiri, sementara rakyat tetap terjebak dalam teka-teki harian tentang harga beras dan cicilan yang tak kunjung usai.

​Kondisi ini makin membobot gelisah berkepanjangan. Publik kian mengalami krisis kepercayaan. Suatu waktu, akan meledak saat warga merasa para elit sudah kehilangan koneksi mendasar dengan realitas sehari-hari konstituennya. Ada jurang yang terlalu lebar antara ruang rapat ber-AC dengan panasnya aspal jalanan. Saat elit sibuk berdebat soal koalisi dan bagi-bagi jatah, warga di bawah justru sedang berjuang agar dapur bisa mengepul.

​Menariknya, di bulan Ramadan ini, kita semua diajak untuk puasa. Sebuah ritus yang memaksa perut kita keroncongan agar kita tahu rasanya menjadi mereka yang serba kekurangan. Esensi puasa adalah empati. Hanya politik kita yang seringkali berjalan tanpa “puasa”. Ia tidak pernah menahan diri dari syahwat kekuasaan dan tidak benar-benar ingin merasakan lapar yang dialami rakyatnya.

Politik kita, nampak lebih sering tampil sebagai mesin pencari suara yang berisik tiap lima tahun sekali. Di mata para pemainnya, ibu-ibu yang matanya perih karena kepul asap dapur, ayah yang punggungnya legam di tambak, penarik becak, atau bapak-bapak di atas perancah bangunan, hanyalah variabel dalam survei.

Mereka didekati, diakrabi, bukan sebagai manusia yang punya keresahan yang telanjang. Tidak. Mereka hanya dianggap sebagai angka-angka mentah yang harus segera dikonversi menjadi kemenangan di bilik suara. Setelah angka itu didapat, eksistensi mereka pun menguap begitu saja.

Sebut saja ini drama nadir. Politik tontonan yang seharusnya digandrungi secara serius melebihi dracin. Politik kita berubah menjadi panggung sandiwara yang megah namun kosong makna. Rakyat tidak lagi diposisikan sebagai subjek yang menentukan arah bangsa, melainkan hanya sebagai penonton, atau lebih buruk lagi, sekadar aksesori dekoratif dalam pawai kekuasaan.

Kita disuguhi tontonan janji yang gemerlap dan baliho yang memenuhi langit kota, tapi rakyat tetap berbuka puasa dengan janji manis yang tak kunjung menjadi kenyataan di piring makan yang menjamur.

Pola ini terus berulang seperti kaset rusak. Mama-mama di kios kecil atau anak-anak di sekolah tiba-tiba dianggap sangat penting hanya saat musim pencoblosan tiba. Mereka mendadak menjadi target retorika yang manis, diperebutkan suaranya seolah mereka adalah komoditas berharga. Namun, sangat jarang mereka dibaca sebagai tujuan utama (luhur) dari politik itu sendiri. Alih-alih menjadi subjek yang diperjuangkan hidupnya, rakyat jelata ini hanya berakhir sebagai statistik dingin di atas kertas kerja tim sukses yang ambisius.

Kita membayangkan, andaikan saja politik mau berpuasa, dalam artian menahan ego kelompok dan benar-benar menyelami penderitaan rakyat. Ia dimungkinkan menemukan jalan kembali menuju fitrah-nya, yaitu pengabdian. Wajar saja kalau akhirnya muncul sikap apatis yang meluas. Untuk apa peduli pada sistem yang hanya datang mengetuk pintu saat butuh dukungan? Untuk apa menaruh antusiasme pada sebuah sistem yang sangat lihai menghitung jumlah pemilih sampai ke angka desimal, tapi mendadak gagap dan bisu saat harus mengeja penderitaan di balik meja makan warga yang jabuk?

Politik kita butuh lebih dari sekadar strategi pemenangan yang canggih. Ia butuh empati untuk membaca hidup yang jujur. Sebab, selama rakyat hanya dipandang sebagai “angka pilih”, selama itu pula politik akan tetap menjadi panggung sandiwara yang melelahkan. Sebuah tontonan yang kian hari kian asing bagi mereka yang setiap hari harus berpeluh demi bertahan hidup satu hari lagi.

Bukankah, sepanjang tahun, dalam Ramadhan maupun bukan. Seringkali kita saksikan tubuh yang “puasa”. Mereka yang ke pasar tapi puasa dari ikan dan sayur. Mereka yang kehujanan karena puasa dari memiliki rumah. Mereka yang tanpa kuasa, puasa dari keadilan. Mereka yang bukan siapa-siapa, puasa dari peluang kesuksesan. Mereka yang biasa, di puasakan oleh penguasa. Penguasa, puasa mensejahterahkan rakyatnya.

Lalu, kenapa pula hal itu tidak menyadarkan nurani kita yang bangkrut?

banner 728x90