oleh

Nuzulul Quran: Wahyu masih turun dan terus bekerja

-Artikel-35 views
banner 728x90

Oleh: Suriadi
(Mahasiswa Doktoral Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto)

Barangkali ada sebuah kesalahpahaman sosiologis yang sering kita pelihara. Di mana kerap menganggap Nuzulul Quran hanyalah peringatan atas peristiwa masa lalu. Adapun sisi lain yang sering dilewatkan, bahwa wahyu itu ternyata hidup, memiliki daya gerak yang tidak pernah usai, “Shalihun likulli zamanin wa makan” (layak untuk setiap zaman dan tempat).

Memang benar, secara tekstual wahyu telah berhenti turun seiring wafatnya Rasulullah SAW. Namun, saat membincang wahyu sebagai kerangka fungsional, maka wahyu tidak pernah berhenti turun dan lalu bekerja. Wahyu menempuh perjalanan panjang dari singgasana langit hingga mendarat di aspal kehidupan kita sehari-hari.

Perjalanan ini, jika hendak kita urai, setidaknya melibatkan empat fase krusial yang saling berkelindan.

banner 728x90

Fase pertama dan kedua adalah etape langit. Bermula dari penjagaan absolut di Lauhul Mahfudz, Al-Quran kemudian diturunkan ke Baitul Izzah. Di sini, ia masih menjadi entitas suci yang jauh dari sentuhan manusia. Baru pada fase berikutnya, ia melintasi batas antara yang sakral dan yang profan. Turun menemui Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah.

Sewaktu turun kepada Nabi, di situlah denyut wahyu terasa. Firman Tuhan mulai berdialek dengan realitas kemanusiaan. Maksudnya, dialektika ini terkait konsep Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat).

Pada masa itu, bisa dilihat rekaman momen, di mana yang “Absolut” (Tuhan) menyapa yang “Relatif” (manusia). Maksudnya begini, Al-Qur’an masa itu adalah respons aktif Tuhan terhadap dinamika, air mata, kemarahan, bahkan pertanyaan-pertanyaan manusia saat itu.

Dan perlu diketahui, sejarah ternyata tidak berhenti di sana. Ada ruang lain di mana Al-Quran selain sebagai artefak sejarah yang indah, juga memiliki nyawa.

Sebab itu, etape yang jauh lebih menantang justru terjadi setelahnya. Fase ketiga, yakni ketika wahyu itu turun ke dalam fisudurikum (ke dalam dada-dada umatnya). Sebut saja ujian internalisasi. Para sahabat, tidak hanya menghafal, paham, namun tiap ayat menjadi penggerak.

Kita bisa melihat, bagaimana porsi sejarah mengenalkan kita tentang sepak terjang sahabat Nabi sebagai umat yang paham tafsir ayat dan pada saat bersamaan ayat itu pula yang menjadi inspirasi hidupnya untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Karena itu, wahyu dalam makna yang lain, sebetulnya belum berhenti turun. Ia masih mengalami proses pemindahan alamat terus-menerus, dari lembaran mushaf menuju pusat kesadaran manusia. Tanpa fase itu, Al-Quran bisa jadi akan berhenti sebagai hafalan di lisan atau pajangan di rak buku.

Berawal dari pandangan inilah, kiranya bisa membawa kita pada muara akhir, sebuah konsep yang saya sebut sebagai an nuzulu ilal akhlaq was suluk (manifestasi perilaku).

Bahwa, tahap keempat ini, wahyu mengalami manifestasi paling konkret dalam perilaku muslim kekinian. Inilah puncak dari segala proses turunnya Al-Quran.

Al-Quran menjadi karakter. Di pahamilah, Al-Quran adalah tidak buang sampah sembarangan, tidak menyimpang, tidak korupsi, tidak maksiat, tidak menipu dan lain sebagainya.

Di situ pula, kita mengejar standar ideal “kaana khuluquhul quran”, ketika perilaku seseorang menjadi cerminan hidup dari nilai-nilai langit. Al-Quran yang turun ke mata akan menjaga pandangan, yang turun ke tangan akan mencegah kezaliman, dan yang turun ke hati akan melahirkan empati.

Saya berupaya mengambil sikap di jalan berbeda. Menempuh upaya berani untuk menegaskan bahwa keberhasilan Nuzulul Quran, barometernya adalah apakah ia mampu mengubah struktur moral masyarakatnya. Tentu, jika hanya riuh dan megah perayaannya tapi kehilangan daya, perintah Quran akan kembali kita injak-injak.

Artinya, wahyu mungkin sudah tidak lagi turun dari langit ke dunia, tetapi ia tetap turun setiap kali seorang mukmin memutuskan untuk jujur di tengah sistem yang korup, atau memilih mengasihi di tengah dunia yang penuh kebencian.

Wahyu memang telah selesai sebagai berita, akan tetapi ia tidak pernah selesai sebagai kerja peradaban. Sehingga, tugas kita bukan saja mengenang turunnya teks, melainkan memastikan teks itu terus bekerja dan menemukan napasnya dalam akhlak kita.

Sesungguhnya Al-Quran itu bernyawa, sebab ia lahir dari dialektika dengan kehidupan. Saat ini, Al-Quran tidak lagi berdialek dengan masyarakat Arab abad ke-7. Kini Quran diperhadapkan pada muslim lintas wilayah, kebiasaan dan masa berbeda. Maka “turun ke Akhlak” (An-Nuzulu ilal Akhlaq) bagi manusia kekinian adalah bagaimana kita menghidupkan kembali dialektika itu.

Kita baca teksnya, lalu kita bawa kegelisahan dunia modern (ketidakadilan, krisis moral, kesepian eksistensial) ke hadapan Al-Quran. Agar ia kembali berbicara dan memberikan solusi.

Sebagai penutup, saya pinjamkan pikiran Mulla Sadra. Baginya, tujuan akhir agama adalah “dari pengetahuan ke menjadi” (from knowing to being).

Untuk “menjadi” itulah, mengapa saya menyebut “Wahyu tidak berhenti bekerja.” Saya memandang, sampai saat ini, wahyu terus bekerja karena realitas kemanusiaan juga terus berubah, dan wahyu musti selalu punya bahasa untuk menyapa perubahan itu. Dan sesungguhnya, itu semua dilakukannya demi muslim, tujuannya agar kita bisa menjadi sesuatu yang manfaat.

Tergantung lagi kita. Pertama, apakah kita menganggap wahyu telah berhenti dan hanya menjadi teks. Atau kedua, ternyata wahyu masih turun, bekerja, memberi nyawa pada hidup kita.

Dan semoga pula, kita tidak hanya berhenti pada wahyu versi pertama itu. Wallahu ‘alam.

banner 728x90